•20.51
Alif melangkah gesit. Kaki kecilnya sesekali tersandung batu, sarungnya pun menyurut ke tanah.Ia kesulitan berlari. Karena langkahnya terhalang oleh sarung.
Matanya membelalak.Nafasnya berirama ‘tak-tik-tuk’.Dengan sigap dicekalnya hulu sarung yang menggulung laksana roti gulung.
“Ustad Kamal, tungguin Alif” Hatinya gelisah.Beberapa meter lagi ia akan sampai di Surau yang telah tampak di pelupuk mata.
“Sin, Syin, Shod…….”Amin, Ari, dan teman-temannya yang lain telah asyik megeja kata demi kata yang di tulis dalam buku di hadapan mereka.
“Ustad!!!”Alif berteriak sesampainya di Surau.Serentak penghuninya menyorot kearah Alif.
Alif terdiam sambil tetap memegang sarungnya.Biji kerigat berkeliuran di wajahnya.Ia lelah. Namun, senyum Ustad Kamal menyambutnya hangat.Mengembalikan energinya yang sempat surut.
“Ayo duduk!”Ustad Kamal memintanya duduk sambil menunjuk bangku kosong yang berada tepat di hadapannya.Setelah semua siap, merekapun melanjutkan pelajaran mengaji sore itu.
# # #
Setelah mengucap salam, Alif berlari menuju dapur. Di tangannya tergenggam sebungkus coklat Silver Queen yang tampak menggiurkan.Matanya berbinar, ketika membawa berita bahagia yang ia dapatkan sepulang mengaji.
“Ibu, Alif dapat coklat!!”Alif menghampiri ibunya yang tengah memotong-motong sayuran.Dikecupnya punggung tangan wanita terkasihnya itu.
“Hadiah hafalan kemarin, ya?” Tanya Bu Anis, ibunya lembut. Alif mengiyakan dengan senyum dan anggukan setuju.Ia pun kembali berlari menuju kamarnya. Bu Anis hanya memandang sambil mengingat kembali usaha keras anaknya untuk menghafalkan setiap tugas yang ia peroleh dari guru ngajinya. Begitu pun dengan coklat itu, yang merupakan hadiah karena keberhasilannya menghafalkan huruf-huruf hijayyah seminggu lalu.
# # #
“Bu, kok sulit sih?” Alif mengeluh.Alisnya saling menyambung.Matanya mulai berkaca.Wajahnya menggambarkan kejenuhan.Lelah melihat huru-huruf yang berjajar bak semut yang sering memadati sudut teras rumahnya.
“Nggak sulit, sayang.Anak ibu bisa, kok.”Bu Anis member semangat.Tangannya mengelus lembut rambut ikal Alif.“Tuh, ada kak Adi.Minta ajarin Kak Adi, yach!”
Alif melirik kakaknya yang duduk di kursi ruang tamu dengan tumpukan buku berserakan di depannya. Ia diam sejenak. Mencerna saran ibunya.Lalu beranjak menuju Adi yang tengah asyik menjajah PRnya.
“Kak Adi…..”Alfi menyapa lembut kakaknya.Disertai senyuman nakal yang menyungging di bibirnya.
Adi menyorotinya sejenak.Kemudian kembali menatapbuku yang berisiberpuluh-puluh PR yang harusdikerjakannya.“Apa?”Jawabnyasingkat.
“BantuinAlif, boleh?” Alifmemelas.Wajahnyadibuatsesedihmungkin, agar kakaktercintanyaluluhdanmembantunya.
“Bantuinapa?” Adibertanyalagitanpamenoleh.
“Hafalanhuruf-hurufhijayyah.”JawabAliflangsungkeinti.
“Aduh, dek.PR KakAdibanyakbanget.”Aditakmengiyakan.Wajahnyamengambarkanpenolakan.“Tuh, tuh.Semuaharusdikerjakan.”Iamenunjukpadabuku-buku di atasmeja.
“Ayolah,Kak!!!” Alfitakjugamenyerah.
“Kenapanggakmintadiajaribu?”Adimemandangnyatajam.
“Ibusibuk,Kak. Alifnggakmauganggu.”Matanyaberkabut.Wajahnyamulaimemerah. “Ayolah, Kak. BantuinAlif, sebentaraja.”
Adimengalah.IapunmengajariAlifyaghampirmenangis. DiajarkannyaAlifdenganmetodemenghafalcepat.Persiseperti yang iaterimaketikabelajar di TPQ dulu.
Di tengahbelajarmenghafalnya, Alifmenyelingidengancerita-ceritamenarikseputarpengalamanbelajarmengajinyapadaUstad Kamal. Dari cerita Amin yang menangis di tengah – tengahpelajarankarenapetunjukiqro’nyadiambil Ali, Ari yang seringmengerjaiteman-temannya, sampaiustad Kamal yang seringmemberitugasdanmemberikanhadiahapabilamerekadapatmengerjakannyadenganbaik. Dan tugas kali iniadalahhafalanhuruf-hurufhijayyah yang menurutnyalebihsulitdibandingkantugas-tugassebelumnya.
Adisempatkewalahanmengajariadiknya yang malahasyiksendiri.Tanpamemerdulikankeadaanya yang bingungmemikirkan PR yang belumselesai.
# # #
Di depan TV Alifasyikmengunyahpotongan demi potongancoklatpemberianUstad Kamal. Sakingasyiknya, iataksadarbahwacoklat di tangannyatinggalseparuh. Iaterussajamengunyahsambilmenembangkanbeberpalaguanak-anak. Tiba-tibaiatersentak. Lagunyaterhenti.Iateringatakansesuatu.
Tanpapikirpanjang, iaberlarimenujukamarkakaknya. Kosong.Iatakmenemukankakaknya di sana. Ia pun berlarimenujuruangtamu. TempatbiasakakaknyamengerjakanPRnya. Di sana pun sepi. Takadasiapapun.Bahkankucingkesayangannya yang seringbermain di sekitar sofa, kinitaktampakjua.Iabelumpuas.Ditemuinya Bu Anis yang sedangmenghidangkanmakansiang.
“Bu, KakAdimana?”Tanyanyaketikasampai di pintudapur.
“Loh, KakAdikansekolah, sayang.”Bu Anismengingatkannya.
“Oh, iya.”Alifmenyentuhkepalanya.
Ia pun beranjakkeruangtamu. Menunggukepulangankakaknya.Coklat di tangannyatampakbasah.Menungguuntuksegeradilahap.
Lama iamenunggu. Namun, takjugatampakolehnyakakaktercintanyaitu.Iabahkansempatterkantuk-kantuk. Iniadalahwaktutidursiangnya, karena jam dinding di ruangtamusudahmenunjukkearah 1.
Tak lama kemudianiaterhenyak. Suarasalamseseorangterdengarjelas di telinganya.
“KakAdi.” Pikirnya.
Dugaannyabenar.Disambutnya sang kakakdenganciuman di punggungtangannya. Senyumnyamerekah.
“Alifnggakbo-bo?”Tanya Adimelihatmataadiknya yang memerah.Alifhanyamenggeleng.
“KakAdi.”Iamenataplekatpadakakaknya.
“Ada apa?”JawabAdisingkat.
“Mau?”TanganAlifmenyodorkancoklat yang tinggalseparuh.Iasisakankhususuntuk sang kakak.

