Author: Disasta_Nisa
•12.24

               Udara dingin menyusup pelan di tubuh Reina. Membuat tulang-tulangnya semakin goyah menahan sejuknya malam. Matanya masih menerawang ke langit-langit kamarnya. Ia  tak bisa tidur malam ini. Entah mengapa hatinya resah. Seakan ada sesutatu yang mengganjal otaknya. Ia bangkit dari posisinya. Lalu terdiam beberapa detik. Ia bingung akan apa yang harus dilakukannya.
                Setelah bosan merenung di kamar berdinding biru muda itu, ia pun terpikir untuk mengambil air di dapur. Ketika ia melewati kamar ayah dan ibunya, suara berisik membuat langkahnya terhenti.
                “Loh, kenapa harus begitu? Mas ngerti sendiri kan, aku sekarang udah jadi meneger, bukan pegawai biasa kayak dulu lagi, kenapa aku yang harus berhenti?” Itu suara bu Septi, ibunya.
                Reina sedikit terkejut. Ia memicingkan matanya. Ada apa ini. Kenapa Ibu tiba-tiba menjadi berani memberontak ayah seperti itu. Otaknya berputar lebih cepat. Wajahnya menegang. Ia semakin tak mengerti.
                “Seharusnya kamu lebih menuangkan waktu untuk Faiq. Kamu lihat keadaan dia sekarang. Lebih mirip dengan anak-anak yang tak terurus di pinggir jalan sana.” Kali ini suara ayah terdengar lebih lantang, “ Kamu kan Ibunya, seharusnya kamu lebih sering berada di samping mereka. Membimbing mereka. Bukan malah mementingkan pekarjaan dan menelantarkan mereka seperti itu.”
                “Maksud Mas semua ini gara-gara aku? Mas juga harus bertanggung jawab sama mereka. Kalau saja Mas bisa dapat pekerjaan yang lebih layak. Bisa memenuhi kebutuhan anak-anak, aku tak akan susah-susah cari pekerjaan, Mas.”
                “Jadi menurut kamu pekerjaan itu tidak layak? Lalu aku harus mencari pekerjaan lain gitu? Kamu pikir cari kerja itu gampang apa? Kalau ada pekerjaan yang lain juga aku akan kerjain. Lalu kenapa sekarang kamu menyalahkan aku? Masalah Faiq itukan memang sepenuhnya urusan kamu.”
                Pertentangan terus berlanjut. Membuat wajah mungil Reina memerah. Ia tak ingin kedua orang tuanya terus bertengkar seperti itu. Tapi, apa yang harus dilakukannya. Kalau saja ia mempunyai sedikit keberanian, ia ingin sekali menorobos masuk ke kamar itu. Menengahi pertengkaran kedua orang tuanya. Namun, kakinya seakan tak kuat untuk sekedar melangkah. Sekujur tubuhnya membeku. Matanya memandang kosong ke depan. Ada genangan air yang siap terurai di sana.
@     @     @

                “Pagi, sayang……” Suara Bu Septi menyapa Reina lembut. Sama seperti pagi – pagi sebelumnya. Ada sedikit goresan luka di bibirnya. Kali ini Reina mengerti mengapa senyum ibunya selalu penuh tanda tanya seperti itu.
                Reina menarik kursi lalu duduk manis di atasnya. Ia melirik ke arah dua bangku kosong di hadapannya.
                “Ayah sama Faiq mana Bu?” Tanya Reina ragu.
                “Faiq belum pulang dari kemarin. Mungkin nginep di rumah temennya.” Mudah sekali bu Septi mengucapkannya. Seakan-akan tak akan terjadi apa-apa jikalau Faiq tinggal di rumah temannya. Padahal mereka semua tahu bahwa kebanyakan teman Faiq adalah anak-anak berandalan. Lalu bagaimana nasib Faiq? Apa mereka tak pernah memikirkannya? “Kalau ayahmu . . . .” Ibu tak melanjutkan ucapannya. Wajah muramnya semakin tampak jelas.
                “Pagi sayang…..” Suara ayah tiba-tiba menyapaku dari belakang. Dan kecupan lembut mendarat di kepalaku. Aku terdiam memperhatikan ayah. Menerawang jika ada raut yang tak biasa mampir di wajah ceria itu. Ayah tampaknya lebih bisa mengendalikan suasana hatinya. Terbukti dari aktingnya yang seolah-olah tak terjadi apa-apa. Sementara ibu yang tepat berada di sampingnya hanya tertunduk lemas menatap piring yang masih terisi penuh oleh sepotong roti berlapis mentega tebal.
                “gimana sekolah kamu sayang? Ayah dengar kamu ikut ekskul batminton ya?” Reina membenarkan dengan senyum yang terkesan dipaksa, “Wah, bagus itu. Kamu bisa punya banyak teman. Dan bisa kembangin bakat kamu main batminton.”
                “Bakat? Itu bahkan lebih cocok disebut keterpaksaan.” Reina membatin.
                Suasana di ruang itu hening sesaat. Sebelum ponsel bu Septi berdering memecah kesepian. Ia kemudian  dengan cepat menekan tombol hijau di bawah layar handponnya.
                “Halo, Ia bu. Hari ini memang ada presentasi dengan kline kita jam setengah sembilan. Saya akan mengusahakan datang secepatnya.” Bu Septi berbicara panjang lebar mengenai urusan kantornya. Sampai-sampai tak menghiraukan dua orang yang memandangnya malas. 
                “Ma,….” Tegur pak Yadi seraya menyenggol lengan bu Septi. Kemudian berbicara dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Tapi,Reina sudah mengerti inti dari pembicaraan singkat itu. Pak Yadi menegur istrinya untuk tidak menerima telpon saat di meja makan seperti sekarang ini.
                Tersadar akan teguran pak Yadi, bu Septi pun menoleh ke arah Reina yang menundukkan kepalanya.
                “Maaf bu, sebentar saya hubungi lagi. Saya masih ada sedikit urusan.”  Lalu ibu menutup telponnya. Reina terdiam. Tak memerdulikan tatapan bu Septi yang belum beranjak darinya.
                “Aku berangkat ayah, ibu.” Ucap Reina tiba-tiba.
                “Loh, kamu kan belum selesai makan.” Bu Septi mencegahnya untuk segera meninggalkan ruangan itu. Namun, suasana hati Reina benar-benar tidak baik. Ia ingin segera beralih dari sana.
                “Ayah antar ya!” Pak Yadi menegahi percakapan mereka.
                “Nggak usah Yah, Aku dianter Pak Irwan aja.” Dengan cepat Reina menggapai tangan bu Septi dan pak Yadi lalu mengecupnya. Lalu bergegas meninggalkan ruangan yang membuat dadanya seakan sesak.  Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
@    @     @

                Satu minggu berlalu setelah kejadian itu. Dan seperti biasa, setiap malam ia tak bisa tidur tiap kali mendengar tangisan ibunya yang bertengkar dengan ayahnya.  Reina menjadi sering merenung di kamarnya. Sementera adiknya Faiq tak tahu bagaimana nasibnya. Tapi, dari berita yang ia dapatkan dari teman sekolah adik semata wayangnya itu, Reina sangat tahu bahwa Faiq menjadi lebih tak terarah setelah mendapati berbagai masalah keluarga yang semakin memanas. Apalagi setelah mendengar bu Septi yang akan menggugat cerai ayah mereka.
                Otak Reina semakin kacau. Ia benar-benar tak mengerti akan jalan pikiran kedua orang tuanya. Mengapa mereka begitu egois. Mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan nasib anak-anaknya. “Ibu tetap akan mampu membesarkan kalian dengan baik. Dan memenuhi segala kebutuhan kalian.” Ucap bu Septi tiap kali membicarakan masalah ini dengan Reina. Dan Reina hanya terdiam menatap kosong ke arah ibunya. Ia tak mampu berbuat apa-apa.
                “Reina!!!?” Suara seseorang berumur sekitar 40-an, menegurnya lembut. “Kamu mengkhayal lagi, ya?” Reina tak menjawab. Ia kemudian meminta maaf lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah buku-buku di hadapannya. Sudah beberapa hari ini Reina meminta bu Indah guru fisikannya untuk les privat. Setelah masalah demi masalah yang ia hadapi, Reina semakin semangat untuk lebih konsentrasi ke pelajarannya. Mengalihkan pikirannya tentang bu Septi yang selalu menangis sesengukan tiap malam, pak Yadi yang sifatnya makin berubah akhir-akhir ini, dan Faiq adiknya yang semakin terjerumus ke pergaulan bebas dan tak pernah mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. 
                Pernah terpikir olehnya untuk pergi dari rumah. Namun, melihat adiknya yang semakin tak terarah. Ia pun bertahan dengan harapan adiknya bisa mendapatkan sedikit perhatian darinya.
@      @      @

                “Faiq!!!” Teriak Reina melihat adiknya yang terbujur lemah dengan darah yang memenuhi wajah polosnya. Reina melihat sekeliling. Di sana masih banyak teman-teman adiknya yang bernasib sama dengannya. Bahkan salah satu dari mereka sudah tak bernyawa.
                Setelah aksi taruhan antar siswa yang terjadi pagi tadi, banyak para siswa yang mengalami cedera atau bahkan meninggal di tempat. Berita tersebut sudah menyebar di seisi kota Bandung. Dan sampai pula ke telinga pak Yadi dan bu Septi.
                Dengan segera mereka menghubungi Reina yang sudah berada di rumah sakit. Menanyakan kabar Faiq yang termasuk salah satu dari korban taruhan itu.
                “Faiq masih di ruang ICU, Ma.” Wajah Reina muram bercampur sedih. Ia menundukkan kepala. Bu Septi duduk di sampingnya. Tak berapa lama pak Yadi datang menemui mereka. Wajahnya tampak sangat khawatir.
                “Bagaimana keadaan Faiq?”
                “Reina masih belum tahu, Yah. Dokter masih di dalam nanganin Faiq.” Susana hening beberapa detik. Lalu pak Yadi kembali membuka pembicaraan. Kali ini tak di tujukan pada Reina, tapi pada bu Septi yang terdiam di sampingnya.
                “Ini yang akan terjadi kalau kamu tetap pada perdirianmu. Sama sekali tak peduli pada nasib anak-anak. “
                “Mas jangan terus-terus salahkan aku. Ini juga salah Mas yang nggak mampu membina keluarga. Dan……”
                “Udah Ma, Yah. Kenapa sih Mama sama Ayah bertengkar terus? Faiq lagi sakit. Tolong Ayah sama Mama berhenti bertengkar. Setidaknya jangan di sini. Kami capek lihat Ayah sama Mama yang bertengkar terus tiap hari. Kami memang butuh perhatian, dan masalah keluarga kita tidak akan selesai kalau Ayah sama Mama terus-terusan bertengkar seperti ini.” Reina memberontak. Wajahnya merah padam. Ia tak lagi sanggup melihat keadaan keluarganya yang jauh dari kata ‘harmonis’.
@       @       @
                “Reina,!!” Sapa seorang wanita sebayanya sambil merangkul bahunya. “Kamu menerima tawaran itu kan? Kata stasiun Tvnya, acara wawancara itu akan dilaksanakan pukul 8 malam nanti.”
                “Oh…..” Reina hanya menanggapi dengan gumaman tak jelas. “Vin, kamu bisa jemput Faiq di sekolahnya? Aku masih harus ketemu profesor Ardi siang ini.”
                “Tenang aja. Serahkan semuanya sama aku.” Sahut Vina seraya mengembangkan senyumnya.
                Aktifitas Reina makin padat akhir-akhir ini. Sebagai seorang mahasiswa dengan berbagai penghargaan yang telah diraihnya dari masa SMA dulu, membuatnya sulit untuk membagi waktu antara aktifitas kampus dan berbagai tawaran wawancara yang ia dapatkan dari berbagai stasiun televisi.
                Setelah perceraian yang dialami kedua orang tuanya, ia makin bersemangat untuk menuangkan perhatian ke pelajaran sekolahnya. Hingga ia mendapat berbagai penghargaan atas kemenangannya mengikuti olimpiade fisika tingkat nasional dan akan melanjut pada tingkat internasional bulan september mendatang.
                Sementara Faiq kini menjadi lebih terarah karena Reina memutuskan untuk membina adiknya sendiri. Reina juga menolak untuk tinggal bersama bu Septi atau Pak Yadi yang telah pisah rumah seminggu sebelum keputusan pengadilan agama menetapkan bahwa mereka resmi bercerai. Reina lebih memilih untuk tinggal di kos-kosan bersama Faiq adiknya. Sehingga ia dapat mengawasi adiknya serta memberi perhatian lebih kepadanya.
                Setahun berlalu begitu saja. Meninggalkan jejak luka di hati Reina. Ia masih belum mampu menerima kenyataan bahwa kini ia tak lagi memiliki keluarga yang sempurna. Semua tinggal kenangan manis yang selama ini menempati sudut terdalam hatinya.
@     @     @

                “Ya, teman-teman, di sini kita sudah kedatangan tamu spesial yang telah mengukir sejarahnya dengan prestasi dalam bidang akademik yang begitu gemilangnya.” Suara pewawancara di salah satu stasiun tv memperkenalkan gadis cantik di hadapannya. Sementara gadis itu hanya tersenyum simpul mendengar pujian-pujian yang dilontarkan terus-munerus.
                “Wah, luar biasa cerdasnya mbak Reina ini. Bagaimana sih, usaha mbak Reina sampai mendapatkan begitu banyak penghargaan hanya dalam satu tahun?”
                “Ya, yang pasti saya selalu mengasah kemampuan saya untuk lebih memahami pelajaran fisika ini, dan tentunya selalu berdo’a untuk hasil yang memuaskan. Pada awalnya saya kurang percaya diri untuk dapat memahami pelajaran yang disebut-sebut sebagai pelajaran paling sulit itu.” Sesekali gadis itu memperbaiki jilbab birunya.
                “Namun, dengan bantuan bu Indah saya jadi tambah semangat dan yakin bahwa saya pasti bisa menjadi yang terbaik dalam setiap olimpiade di nusantara atau bahkan di dunia. Dan terbukti, saya dapat melakukannya.” Reina menatap mantap ke arah pewawancara itu. Senyumnya masih tersungging di bibirnya. Kemudian gemuruh tepuk tangan audiens menggema di seisi ruangan.
                “Lalu dari keluarga mbak Reina sendiri, siapa yang paling memotivasi mbak Reina untuk menjadi yang terbaik?”
                “Adik saya, Faiq. Dialah alasan saya mencapai prestasi seperti sekarang ini.” Mata Reina memandang ke arah audiens, mencari sosok adik tercintanya di sana. Senyumnya kembali mengembang ketika mendapati adiknya itu duduk manis seraya  melambaikan tangannya. “setiap kali saya melihat dia, saya semakin ingin untuk memberikan yang terbaik untuknya.”
                “Lalu, bagaimana dengan orang tua mbak Reina sendiri? Apa mereka juga memberikan dukungan kepada mbak Reina?” Pertanyaan itu berhasil membuat Reina bungkam. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya selama beberapa detik. Faiq memandangi kakaknya tajam. Penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Reina.
                “Mereka sudah bercerai. Dan saya jarang bertemu mereka. Jadi, mungkin mereka tidak tahu kalau saya sudah sejauh ini mengikuti olimpiade-olimpiade.” Reina terdiam lagi. Serempak seluruh penonton pun terpaku. Tak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.
                “Ehm, maaf mbak. Kami sama sekali tidak tahu masalah itu. Dan tidak bermaksud mencampuri masalah pribadi Anda.” Reina hanya tersenyum samar menanggapi kata maaf pewawancara itu.
                “Tidak apa-apa. Toh, kenyataannya memang seperti itu. Dan seiring berjalannya waktu saya menjadi  terbiasa dengan keadaan seperti ini. “ Reina tertunduk sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “ Mengharapkan agar Ayah sama ibu balikan lagi, itu sudah pasti. Tapi, kami sebagai anak juga harus memahami keadaan orang tua kami.” Mata penonton kini tak lepas dari sosok cantik di hadapan mereka.
                “ Meski itu lebih pantas disebut menerima keadaan, bukan memahami. Seperti yang saya bilang tadi, kenyataannya sudah seperti itu. Dan kami tidak berhak merubah apa-apa.  Kami hanya berharap, Ayah dan ibu diberi kebahagiaan yang lain, kebahagiaan yang dapat mewakili rasa rindu kami padanya.” Tepat saat ia mengucapkan kalimat itu, matanya tertutup oleh buliran air mata. Ia tak lagi mampu menahan rasa rindunya.  
@    @     @