Author: Disasta_Nisa
•23.18
Assalamu'alaikum wr.wb,.
Di sini saya ingin berbagi info tentang produk kesehatan yang bagus banget, dan kualitasnya terjamin. Produk ini adalah produk dari TIENS GROUP atau TIANSHI GROUP yang berpusat di CINA.
Keunggulan Produk ini antara lain:
1. MENYEMBUHKAN SEGALA MACAM PENYAKIT.
2. HARGA TERJANGKAU
3. SUDAH MENDAPAT SERTIFIKAT HALAL DARI MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI), BAIK DARI SEGI PRODUK MAUPUN BISNIS YANG DIJALANKAN.
4. MENINGKATKAN KEBUGARAN TUBUH.
5. MENINGKATKAN DAYA INGAT DAN KECERDASAN OTAK.

info pemesanan ke: 085790549870 (nisa)



    








Chitin Citosan (Rp.375.000)








Vitaline (Rp:275.000)











































































































































Author: Disasta_Nisa
•18.46



Sore itu, kau pandangi siluet jingga dibarat sana
Kau puja sang pencipta dengan tangan menengadah
Tapi siangnya, kau tebas habis Maha karya terindah untuk para hamba
Tujuanmu, hanya mengisi perut satu, dua, tiga, saudaramu
Tak kau pikirkan milyaran manusia yang pontang-panting di pinggiran dunia

Apa ini?
Ilusi atau nyata?
Kau layangkan pandangan
Toleh kanan, toleh kiri
Mulut mengeja kata, mata bermain ria
Hanya untuk menghapus tanda merah di selembaran yang hakikatnya kosong

Apa ini?
Ilusi atau nyata?
Dengan tangan, kau gores mimpi-mimpi
Bangkitkan gelora jiwa untuk lari mendaki gunung bersamamu
Tapi, saat kau duduk manis dibalik tahta
Tak kau dengar jeritan tangis dari hati-hati kecil negri ini

Apa ini?
Ilusi atau nyata?
Atau hanya deretan fakta yang kau genggam bersama ilusi

Author: Disasta_Nisa
•17.01

                                                           BAB I
                                                PENDAHULUAN

1.1                        Latar Belakang

Masyarakat islam di era modernisasi saat ini memiliki banyak perubahan sikap yang signifikan. Baik dalam hal kepribadian, pemikiran, maupun cara bergaul. Hal tersebut didominasi oleh perkembangan budaya barat yang memengaruhi hampir seluruh Negara di dunia. Sehingga masyarakat islam sedikit banyak telah terbius untuk meniru kebudayaan-kebudayaan yang sebenarnya tak begitu cocok dengan tradisi budaya timur.
Demi memberantas hal ini, pemuka muslim saat ini telah berupaya untuk memperluas daerah dakwah. Salah satunya dengan mengadakan tausiyah di berbagai tempat baik di lingkungan pribadi maupun di tepat-tempat lain yang memerlukan sentuhan khusus untuk memperdalam agama.

      1.2 Tujuan

Dibuatnya makalah ini bertujuan untuk menciptakan pergaulan yang islami dalam dunia islam. Khususnya bagi kader islam yang masih perlu dorongan dari lingkungan sekitar untuk membentuk karakter diri yang mencerminkan adanya nilai-nilai yang terkandung dalam al-Qur’an dan al-Hadist.
Selain itu, saya juga mengharapkan lahirnya semangat diri untuk memotivasi kita agar menjadi muslim muslimah yang tangguh, sehubungan dengan semakin gencarnyapengaruh luar islam yang dapat merusak generasi penerus islam ini. Karena telah banyak kasus yang dapat kita jadikan pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik.










                       BAB II
               PEMBAHASAN    


2.1 Silaturrohim

            Silaturrohmi berasal dari bahasa Arab yang berarti saling menyayangi atau saling mencintai. Saling mencintai dalam hal ini adalah memberi perhatian dan peduli terhadap nasib sesama umat islam. Tanpa memperdulikan ras, suku, dan bangsa. Karena seperti sabda Nabi yang menyatakan bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Sehingga kita diperintahkan untuk memperlakukan umat muslim lainnya dengan penuh kasih sayang.
           Di zaman modern seperti sekarang ini, pengaruh globalisasi dapat melunturkan budaya islam yang senang bersilaturrohmi demi mempererat hubungan ukhuwah islamiyah. Semua itu disebabkan oleh semakin padatnya aktifitas manusia demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Tak jarang sangat banyak kasus kesenjangan sosial yang terjadi di daerah-daerah yang memiliki populasi penduduk yang dipadati dengan aktifitas yang mengikat seperti di daerah perkotaan.
           Masyarakat islam di daerah perkotaan lebih senang menghabiskan waktu di kantor atau tempat kerja untuk menghasilkan uang ketimbang mengunjungi sanak saudara demi memperkukuh tali persaudaraan. Sehingga sangat kurang atau mungkin hampir tidak ada interaksi antartetangga di sekitar lingkungannya.

       2.2  Pergaulan Antar Sesama Muslim

            Pergaulan yang sehat dan memberi manfaat telah diajarkan oleh Rosululloh SAW selama beliau hidup. Bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rosul Allah SWT. Hal itu menunjukkan bahwa kepribadian Rosul yang begitu patut untuk ditiru merupakan suatu perwujudan dari pembelajaran yang beliau berikan kepada kita semua melalui sikap dan parilaku beliau.
                 Muslim saat ini memiliki banyak tantang internal maupun external yang berhubungan dengan aqidah, akhlaq, dan syari’ah. Oleh sebab itu, jaln yang perlu diambil oleh umat islam selain menuntut ilmu untuk lebih memahami keadaan adalah mempererat hubungan kekeluargaan antar sesama muslim. Karena Rosulullah sendiri sangat mewanti-wanti kepada kaumnya untuk selalu memperbaiki hubungan sesame muslim. Seperti yang tergambar dalam hadist berikut:

حَدِ يث عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِ اللهُ عَنهُمَا. أنَّ رَسُولَ اللهِ صلّي اللهُ عليهِ      
وَسَلّمَ ، قَالَ : الْمُسْلِمُ أَخُوالْمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ . وَمَنْ كَانَ فِى
حَاجَةِ أَخِيهِ . كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ . وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً ، فَرَّجَ اللهُ
عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ. وَمَنْ سَتَرَمُسْلِمًا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ اخرجه البخاري فى : – كتاب المظالم: – باب لايظلم المسلم المسلم ولايسلمه .
Artinya:
Abdullah bin Umar r.a. berkata : Rasulullah saw. Bersabda : Seorang muslim saudara terhadap sesama muslim, tidak menganiyayanya dan tidak akan dibiarkan dianiaya orang lain. Dan siapa yang menyampaikan hajat saudaranya, maka Allah akan menyampaikan hajatnya. Dan siapa yang melapangkan kesusahan seorang muslim, maka Allah akan melapangkan kesukarannya di hari qiyamat, dan siapa yang menutupi aurat seorang muslim maka Allah akan menutupinya di hari qiyamat. (Bukhari, muslim).

           Maksud yang terkandung dalam hadist ini antara lain, diperintahkan kepada kita umat muslin untuk saling membantu saudara sesama muslim dan  memberikan kemudahan kepada mereka, serta membantu mereka untuk tidak mengumbar aib atau sesuatu yang membuat mereka merasa kecil dihadapan saudara-saudaranya.
            Dari hadist tersebut Rosululloh telah menggambarkan bahwa hubungan yang baik antar sesama muslim itu memang perlu mendapat perhatian khusus dari setiap orang yang mengaku beragama islam. Karena dengan terciptanya kedamaian dan kerukunan antar sesama muslim
bukan tidak mungkin budaya-budaya luar yang dapat menghancurkan akhlaq itu dapat diberantas.
          Namun, problematika yang sedang terjadi di tengah-tengah peradaban umat islam saat ini, justru sebagian besar disebabkan oleh adanya perbedaan pendapat yang berakhir pada saling menghujat, dan penetuan salah-benar diantara mereka. Hal yang berhubungan dengan aqidah dan syari’ah selalu menjadi pembahasan utama antar golongan islam ini. Nampaknya, hadist nabi yang menyebutkan bahwa islam akan terbelah menjadi beberapa golongan sudah sangat tampak di era ini. Sehingga kita akan lebih sulit untuk membedakan mana di antara berpuluh-puluh aliran ini yang merupakan islam sejati.
          Orang-orang yang tidak faham akan fenomena ini malah akan memanfaat kesempatan tersebut untuk saling menjatuhkan dan mengokohkan golongannya sebagai golongan islam yang paling benar dan dapat menghantarkan umat islam lainnya menuju surga Alloh. Padahal, jika kita dapat mengambil hikmah yang tersembunyi dari alasan terbaginya umat menjadi kelompok-kelompok atau gologan ini, tak lain adalah untuk menguji rasa peduli dan kekeluargaan yang baik antar sesama umat islam. Karena Alloh sendiri berfirman bahwa :







“Orang – orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan ) antara kedua saudaramu itu, dan takutlah kepada Alloh, supaya kamu mendapat rahmat.(49:10).

        Dari ayat di atas, Alloh sendiri telah menjelaskan dengan gamblang akan hubungan sesame muslim yang sudah seharusnya. Hanya saja, perbedaan pendapat antargolongan itulah yang menyebabkan sering terjadinya kesalah pahaman antara golongan yang satu dan yang lain.
                 

             BAB III
                                       PENUTUP

3.1 Keimpulan

                 Dari makalah singkat yang saya buat ini, hendaknya kita dapat mengambil kesimpulan antara lain:
1.      Mempererat tali persaudaan antar sesama muslim memang sangatlah perlu agar dapat menciptakan ketentraman antar umat islam sendiri.
2.      Sehubungan dengan semakin gencarnya pengaruh globalisasi, perlu adanya persiapan yang matang khususnya bagi generasi penerus untuk lebih memahami agama islam dan mempekokoh hubungan sesama muslim.
3.      Harus ada yang namanya kepedulian, pengertian, dan tolong menolong antar sesama muslim agar rasa sepenanggungan akan lebih tertanam di hati setiap muslim.
Kita harus terus mengembangkan ajaran islam tanpa mempermasalahka mana islam yang lebih benar, karena sesungguhnya kita sudah ditakdirkan untuk menjadi agama yang akan terpecah belah menjadi beberapa golongan. Namun, yang terpenting adalah harus adanya sikap saling menguatkan antargolongan islam itu sendiri, agar tak member celah kepada agama lain yang ingin mempropagandakan masalah ini sebagai salah satu alasan untuk menjatuhkan umat agama islam.


3.2  Kritik dan Saran

Semoga dengan adanya makalah ini dapat meningkatkan semangat kita untuk memupuk kekompakan sehingga tak mudah terpengaruh dan goyah oleh pengaruh luar. Serta kita dapat mengambil inti dari hal-hal yang sudah dipaparkan meski hanya sekilas. Selebihnya, apabila ada kesalahan mohon untuk diperbaiki karena saya sendiri masih jauh dari kesempurnaan.
Saya juga berharap agar makalah ini dapat dijadikan bahan pemicu diri kita untuk selalu semangat memperjuangkan agama ini, dan merasa bangga dengankeislaman kita karena diluar sana masih banyak orang-orang yang belum mendapatkan hidayah dari Alloh untuk mengenal lebih dekat tentang ajaran islam.


  
Author: Disasta_Nisa
•12.24

               Udara dingin menyusup pelan di tubuh Reina. Membuat tulang-tulangnya semakin goyah menahan sejuknya malam. Matanya masih menerawang ke langit-langit kamarnya. Ia  tak bisa tidur malam ini. Entah mengapa hatinya resah. Seakan ada sesutatu yang mengganjal otaknya. Ia bangkit dari posisinya. Lalu terdiam beberapa detik. Ia bingung akan apa yang harus dilakukannya.
                Setelah bosan merenung di kamar berdinding biru muda itu, ia pun terpikir untuk mengambil air di dapur. Ketika ia melewati kamar ayah dan ibunya, suara berisik membuat langkahnya terhenti.
                “Loh, kenapa harus begitu? Mas ngerti sendiri kan, aku sekarang udah jadi meneger, bukan pegawai biasa kayak dulu lagi, kenapa aku yang harus berhenti?” Itu suara bu Septi, ibunya.
                Reina sedikit terkejut. Ia memicingkan matanya. Ada apa ini. Kenapa Ibu tiba-tiba menjadi berani memberontak ayah seperti itu. Otaknya berputar lebih cepat. Wajahnya menegang. Ia semakin tak mengerti.
                “Seharusnya kamu lebih menuangkan waktu untuk Faiq. Kamu lihat keadaan dia sekarang. Lebih mirip dengan anak-anak yang tak terurus di pinggir jalan sana.” Kali ini suara ayah terdengar lebih lantang, “ Kamu kan Ibunya, seharusnya kamu lebih sering berada di samping mereka. Membimbing mereka. Bukan malah mementingkan pekarjaan dan menelantarkan mereka seperti itu.”
                “Maksud Mas semua ini gara-gara aku? Mas juga harus bertanggung jawab sama mereka. Kalau saja Mas bisa dapat pekerjaan yang lebih layak. Bisa memenuhi kebutuhan anak-anak, aku tak akan susah-susah cari pekerjaan, Mas.”
                “Jadi menurut kamu pekerjaan itu tidak layak? Lalu aku harus mencari pekerjaan lain gitu? Kamu pikir cari kerja itu gampang apa? Kalau ada pekerjaan yang lain juga aku akan kerjain. Lalu kenapa sekarang kamu menyalahkan aku? Masalah Faiq itukan memang sepenuhnya urusan kamu.”
                Pertentangan terus berlanjut. Membuat wajah mungil Reina memerah. Ia tak ingin kedua orang tuanya terus bertengkar seperti itu. Tapi, apa yang harus dilakukannya. Kalau saja ia mempunyai sedikit keberanian, ia ingin sekali menorobos masuk ke kamar itu. Menengahi pertengkaran kedua orang tuanya. Namun, kakinya seakan tak kuat untuk sekedar melangkah. Sekujur tubuhnya membeku. Matanya memandang kosong ke depan. Ada genangan air yang siap terurai di sana.
@     @     @

                “Pagi, sayang……” Suara Bu Septi menyapa Reina lembut. Sama seperti pagi – pagi sebelumnya. Ada sedikit goresan luka di bibirnya. Kali ini Reina mengerti mengapa senyum ibunya selalu penuh tanda tanya seperti itu.
                Reina menarik kursi lalu duduk manis di atasnya. Ia melirik ke arah dua bangku kosong di hadapannya.
                “Ayah sama Faiq mana Bu?” Tanya Reina ragu.
                “Faiq belum pulang dari kemarin. Mungkin nginep di rumah temennya.” Mudah sekali bu Septi mengucapkannya. Seakan-akan tak akan terjadi apa-apa jikalau Faiq tinggal di rumah temannya. Padahal mereka semua tahu bahwa kebanyakan teman Faiq adalah anak-anak berandalan. Lalu bagaimana nasib Faiq? Apa mereka tak pernah memikirkannya? “Kalau ayahmu . . . .” Ibu tak melanjutkan ucapannya. Wajah muramnya semakin tampak jelas.
                “Pagi sayang…..” Suara ayah tiba-tiba menyapaku dari belakang. Dan kecupan lembut mendarat di kepalaku. Aku terdiam memperhatikan ayah. Menerawang jika ada raut yang tak biasa mampir di wajah ceria itu. Ayah tampaknya lebih bisa mengendalikan suasana hatinya. Terbukti dari aktingnya yang seolah-olah tak terjadi apa-apa. Sementara ibu yang tepat berada di sampingnya hanya tertunduk lemas menatap piring yang masih terisi penuh oleh sepotong roti berlapis mentega tebal.
                “gimana sekolah kamu sayang? Ayah dengar kamu ikut ekskul batminton ya?” Reina membenarkan dengan senyum yang terkesan dipaksa, “Wah, bagus itu. Kamu bisa punya banyak teman. Dan bisa kembangin bakat kamu main batminton.”
                “Bakat? Itu bahkan lebih cocok disebut keterpaksaan.” Reina membatin.
                Suasana di ruang itu hening sesaat. Sebelum ponsel bu Septi berdering memecah kesepian. Ia kemudian  dengan cepat menekan tombol hijau di bawah layar handponnya.
                “Halo, Ia bu. Hari ini memang ada presentasi dengan kline kita jam setengah sembilan. Saya akan mengusahakan datang secepatnya.” Bu Septi berbicara panjang lebar mengenai urusan kantornya. Sampai-sampai tak menghiraukan dua orang yang memandangnya malas. 
                “Ma,….” Tegur pak Yadi seraya menyenggol lengan bu Septi. Kemudian berbicara dengan suara lirih yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. Tapi,Reina sudah mengerti inti dari pembicaraan singkat itu. Pak Yadi menegur istrinya untuk tidak menerima telpon saat di meja makan seperti sekarang ini.
                Tersadar akan teguran pak Yadi, bu Septi pun menoleh ke arah Reina yang menundukkan kepalanya.
                “Maaf bu, sebentar saya hubungi lagi. Saya masih ada sedikit urusan.”  Lalu ibu menutup telponnya. Reina terdiam. Tak memerdulikan tatapan bu Septi yang belum beranjak darinya.
                “Aku berangkat ayah, ibu.” Ucap Reina tiba-tiba.
                “Loh, kamu kan belum selesai makan.” Bu Septi mencegahnya untuk segera meninggalkan ruangan itu. Namun, suasana hati Reina benar-benar tidak baik. Ia ingin segera beralih dari sana.
                “Ayah antar ya!” Pak Yadi menegahi percakapan mereka.
                “Nggak usah Yah, Aku dianter Pak Irwan aja.” Dengan cepat Reina menggapai tangan bu Septi dan pak Yadi lalu mengecupnya. Lalu bergegas meninggalkan ruangan yang membuat dadanya seakan sesak.  Entah apa yang akan terjadi setelah ini.
@    @     @

                Satu minggu berlalu setelah kejadian itu. Dan seperti biasa, setiap malam ia tak bisa tidur tiap kali mendengar tangisan ibunya yang bertengkar dengan ayahnya.  Reina menjadi sering merenung di kamarnya. Sementera adiknya Faiq tak tahu bagaimana nasibnya. Tapi, dari berita yang ia dapatkan dari teman sekolah adik semata wayangnya itu, Reina sangat tahu bahwa Faiq menjadi lebih tak terarah setelah mendapati berbagai masalah keluarga yang semakin memanas. Apalagi setelah mendengar bu Septi yang akan menggugat cerai ayah mereka.
                Otak Reina semakin kacau. Ia benar-benar tak mengerti akan jalan pikiran kedua orang tuanya. Mengapa mereka begitu egois. Mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan nasib anak-anaknya. “Ibu tetap akan mampu membesarkan kalian dengan baik. Dan memenuhi segala kebutuhan kalian.” Ucap bu Septi tiap kali membicarakan masalah ini dengan Reina. Dan Reina hanya terdiam menatap kosong ke arah ibunya. Ia tak mampu berbuat apa-apa.
                “Reina!!!?” Suara seseorang berumur sekitar 40-an, menegurnya lembut. “Kamu mengkhayal lagi, ya?” Reina tak menjawab. Ia kemudian meminta maaf lalu cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah buku-buku di hadapannya. Sudah beberapa hari ini Reina meminta bu Indah guru fisikannya untuk les privat. Setelah masalah demi masalah yang ia hadapi, Reina semakin semangat untuk lebih konsentrasi ke pelajarannya. Mengalihkan pikirannya tentang bu Septi yang selalu menangis sesengukan tiap malam, pak Yadi yang sifatnya makin berubah akhir-akhir ini, dan Faiq adiknya yang semakin terjerumus ke pergaulan bebas dan tak pernah mendapatkan perhatian kedua orang tuanya. 
                Pernah terpikir olehnya untuk pergi dari rumah. Namun, melihat adiknya yang semakin tak terarah. Ia pun bertahan dengan harapan adiknya bisa mendapatkan sedikit perhatian darinya.
@      @      @

                “Faiq!!!” Teriak Reina melihat adiknya yang terbujur lemah dengan darah yang memenuhi wajah polosnya. Reina melihat sekeliling. Di sana masih banyak teman-teman adiknya yang bernasib sama dengannya. Bahkan salah satu dari mereka sudah tak bernyawa.
                Setelah aksi taruhan antar siswa yang terjadi pagi tadi, banyak para siswa yang mengalami cedera atau bahkan meninggal di tempat. Berita tersebut sudah menyebar di seisi kota Bandung. Dan sampai pula ke telinga pak Yadi dan bu Septi.
                Dengan segera mereka menghubungi Reina yang sudah berada di rumah sakit. Menanyakan kabar Faiq yang termasuk salah satu dari korban taruhan itu.
                “Faiq masih di ruang ICU, Ma.” Wajah Reina muram bercampur sedih. Ia menundukkan kepala. Bu Septi duduk di sampingnya. Tak berapa lama pak Yadi datang menemui mereka. Wajahnya tampak sangat khawatir.
                “Bagaimana keadaan Faiq?”
                “Reina masih belum tahu, Yah. Dokter masih di dalam nanganin Faiq.” Susana hening beberapa detik. Lalu pak Yadi kembali membuka pembicaraan. Kali ini tak di tujukan pada Reina, tapi pada bu Septi yang terdiam di sampingnya.
                “Ini yang akan terjadi kalau kamu tetap pada perdirianmu. Sama sekali tak peduli pada nasib anak-anak. “
                “Mas jangan terus-terus salahkan aku. Ini juga salah Mas yang nggak mampu membina keluarga. Dan……”
                “Udah Ma, Yah. Kenapa sih Mama sama Ayah bertengkar terus? Faiq lagi sakit. Tolong Ayah sama Mama berhenti bertengkar. Setidaknya jangan di sini. Kami capek lihat Ayah sama Mama yang bertengkar terus tiap hari. Kami memang butuh perhatian, dan masalah keluarga kita tidak akan selesai kalau Ayah sama Mama terus-terusan bertengkar seperti ini.” Reina memberontak. Wajahnya merah padam. Ia tak lagi sanggup melihat keadaan keluarganya yang jauh dari kata ‘harmonis’.
@       @       @
                “Reina,!!” Sapa seorang wanita sebayanya sambil merangkul bahunya. “Kamu menerima tawaran itu kan? Kata stasiun Tvnya, acara wawancara itu akan dilaksanakan pukul 8 malam nanti.”
                “Oh…..” Reina hanya menanggapi dengan gumaman tak jelas. “Vin, kamu bisa jemput Faiq di sekolahnya? Aku masih harus ketemu profesor Ardi siang ini.”
                “Tenang aja. Serahkan semuanya sama aku.” Sahut Vina seraya mengembangkan senyumnya.
                Aktifitas Reina makin padat akhir-akhir ini. Sebagai seorang mahasiswa dengan berbagai penghargaan yang telah diraihnya dari masa SMA dulu, membuatnya sulit untuk membagi waktu antara aktifitas kampus dan berbagai tawaran wawancara yang ia dapatkan dari berbagai stasiun televisi.
                Setelah perceraian yang dialami kedua orang tuanya, ia makin bersemangat untuk menuangkan perhatian ke pelajaran sekolahnya. Hingga ia mendapat berbagai penghargaan atas kemenangannya mengikuti olimpiade fisika tingkat nasional dan akan melanjut pada tingkat internasional bulan september mendatang.
                Sementara Faiq kini menjadi lebih terarah karena Reina memutuskan untuk membina adiknya sendiri. Reina juga menolak untuk tinggal bersama bu Septi atau Pak Yadi yang telah pisah rumah seminggu sebelum keputusan pengadilan agama menetapkan bahwa mereka resmi bercerai. Reina lebih memilih untuk tinggal di kos-kosan bersama Faiq adiknya. Sehingga ia dapat mengawasi adiknya serta memberi perhatian lebih kepadanya.
                Setahun berlalu begitu saja. Meninggalkan jejak luka di hati Reina. Ia masih belum mampu menerima kenyataan bahwa kini ia tak lagi memiliki keluarga yang sempurna. Semua tinggal kenangan manis yang selama ini menempati sudut terdalam hatinya.
@     @     @

                “Ya, teman-teman, di sini kita sudah kedatangan tamu spesial yang telah mengukir sejarahnya dengan prestasi dalam bidang akademik yang begitu gemilangnya.” Suara pewawancara di salah satu stasiun tv memperkenalkan gadis cantik di hadapannya. Sementara gadis itu hanya tersenyum simpul mendengar pujian-pujian yang dilontarkan terus-munerus.
                “Wah, luar biasa cerdasnya mbak Reina ini. Bagaimana sih, usaha mbak Reina sampai mendapatkan begitu banyak penghargaan hanya dalam satu tahun?”
                “Ya, yang pasti saya selalu mengasah kemampuan saya untuk lebih memahami pelajaran fisika ini, dan tentunya selalu berdo’a untuk hasil yang memuaskan. Pada awalnya saya kurang percaya diri untuk dapat memahami pelajaran yang disebut-sebut sebagai pelajaran paling sulit itu.” Sesekali gadis itu memperbaiki jilbab birunya.
                “Namun, dengan bantuan bu Indah saya jadi tambah semangat dan yakin bahwa saya pasti bisa menjadi yang terbaik dalam setiap olimpiade di nusantara atau bahkan di dunia. Dan terbukti, saya dapat melakukannya.” Reina menatap mantap ke arah pewawancara itu. Senyumnya masih tersungging di bibirnya. Kemudian gemuruh tepuk tangan audiens menggema di seisi ruangan.
                “Lalu dari keluarga mbak Reina sendiri, siapa yang paling memotivasi mbak Reina untuk menjadi yang terbaik?”
                “Adik saya, Faiq. Dialah alasan saya mencapai prestasi seperti sekarang ini.” Mata Reina memandang ke arah audiens, mencari sosok adik tercintanya di sana. Senyumnya kembali mengembang ketika mendapati adiknya itu duduk manis seraya  melambaikan tangannya. “setiap kali saya melihat dia, saya semakin ingin untuk memberikan yang terbaik untuknya.”
                “Lalu, bagaimana dengan orang tua mbak Reina sendiri? Apa mereka juga memberikan dukungan kepada mbak Reina?” Pertanyaan itu berhasil membuat Reina bungkam. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya selama beberapa detik. Faiq memandangi kakaknya tajam. Penasaran dengan jawaban yang akan diberikan Reina.
                “Mereka sudah bercerai. Dan saya jarang bertemu mereka. Jadi, mungkin mereka tidak tahu kalau saya sudah sejauh ini mengikuti olimpiade-olimpiade.” Reina terdiam lagi. Serempak seluruh penonton pun terpaku. Tak ada yang mengeluarkan suara sama sekali.
                “Ehm, maaf mbak. Kami sama sekali tidak tahu masalah itu. Dan tidak bermaksud mencampuri masalah pribadi Anda.” Reina hanya tersenyum samar menanggapi kata maaf pewawancara itu.
                “Tidak apa-apa. Toh, kenyataannya memang seperti itu. Dan seiring berjalannya waktu saya menjadi  terbiasa dengan keadaan seperti ini. “ Reina tertunduk sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya. “ Mengharapkan agar Ayah sama ibu balikan lagi, itu sudah pasti. Tapi, kami sebagai anak juga harus memahami keadaan orang tua kami.” Mata penonton kini tak lepas dari sosok cantik di hadapan mereka.
                “ Meski itu lebih pantas disebut menerima keadaan, bukan memahami. Seperti yang saya bilang tadi, kenyataannya sudah seperti itu. Dan kami tidak berhak merubah apa-apa.  Kami hanya berharap, Ayah dan ibu diberi kebahagiaan yang lain, kebahagiaan yang dapat mewakili rasa rindu kami padanya.” Tepat saat ia mengucapkan kalimat itu, matanya tertutup oleh buliran air mata. Ia tak lagi mampu menahan rasa rindunya.  
@    @     @