Ibu adalah sosok yang begitu
sempurna untukku. Sampai-sampai aku malu menatap matanya yang begitu teduh,
tenang, dan menentramkan hatiku.
Satu
ketika aku pulang ke rumah dengan pakaian yang basah kuyup. Jam dinding di
ruang tamu menunjuk ke arah angka dua belas.
Rasa
takut mendekap tubuhku. Takut akan sikap ayah dan ibu yang pastinya akan
langsung memarahiku. Namun, setelah berfikir lama dan mengumpulkan seluruh
kekuatan yang tersisa, aku pun melangkah tebata. Kemudian mengetuk daun pintu
yang terkunci rapat.
“Assalamu’alaikum…..”
Ucapku lirih sambil menahan gejolak hati yang tak karuan.
Awalnya
tak terdengar jawaban dari dalam rumah. Sebelum kemudian aku terkejut mendapati
wajah ayah yang merah berang.
“Kamu
tahu sekarang jam berapa?” Tanya Ayah denga nada suara yang menyayat hati.
“Maaf,
Yah.” Ujarku menundukkan kepala.
“Dasar
anak tidak tahu malu!”
Bentakan
itu diiringi tamparan keras di pipi kiriku. Seketika aku tersungkur ke lantai.
“Masya
Allah. Sudah Yah, sudah!” Teriak ibu yang tiba-tiba berlari ke arahku.
Aku
menangis sambil menahan sakitnya tamparan ayah. Tapi, tangisan ibu terdengar
lebih memilukan dariku. Aku tahu ibu tak tahan melihat sikap ayah yang begitu
keras kepadaku. Berkali-kali beliau memeluk dan menciumku.
“Kamu
nggak pa-pa ‘kan sayang?”
Dengan
penuh perhatian ibu mengelus pipiku. Aku hanya menangis sambil menganggukkan
kepala.
“Untuk
apa kamu peduli pada anak ini?” Ayah kembali membentak. “Apa masih kurang
pendidikan yang ia dapatkan selama dua belas tahun di pondok pesantren?”
“Sudah,
Yah. Sudah! Jangan salahkan Ifa terus!” Ibu membelaku.
“Ibu
itu gimana sih? Anak salah kok dibelain. Apa kata tetangga bu?”
“Maaf,
maafin Ifa, Yah!” Ucapku memelas. Meski ayah tak menghiraukanku.
“Bu,
maafin Ifa, bu!” Ku arahkan pandangan pada ibu yang masih tersedu.
“Kamu
ngapain aja sayang? Kenapa pulangnya selarut ini?”
Tanya
itu membuat jantungku berdetak tak stabil. Aku sangat terkejut. Seketika
otot-ototku terasa lemas. Tak lagi kuat untuk sekedar menjawab pertanyaan itu.
Ku tatap wajah ibu dalam-dalam. Ada begitu besar harapan di sana. Harapan yang
membuatku semakin tak tega menghancurkannya. Ku tahu bahwa itu adalah tatapan
kasih terakhir untukku. Karena aku sadar setelah mereka mengetahui yang
sebenarnya, kesempatan untuk dapat berkumpul bersama mereka sudah tidak ada
lagi.
# #
#
Hari
ini, genap lima tahun aku meninggalkan rumah. Tempat dimana aku mengukir
kenangan terindah sepanjang sejarah hidupku. Kalau ditanya tentang rindu, aku
tak akan mengelak. Karena pada kenyataannya aku sangat merindukan mereka. Tapi,
setidaknya aku tetap bisa tegar menghadapi alur hidup ini yang belum berakhir. Karena
seorang pangeran kecil setia
menemaniku.
Menghapus setiap air mata yang bergulir. Membagi suka duka bersama. Ya, dialah
satu-satunya alasan yang membuatku mampu melanjutkan hidup.
“Alwi…..”
Aku menyeru pada bocah laki-laki berambut ikal yang tengah asyik bemain.
Tampaknya ia tidak mendengarkan aku. Jemarinya asyik mementalkan kelereng ke
arah kelereng lainnya. Matanya bahkan tak berkedip sedikitpun.
Aku
maklum. Kutunggu sejenak sampai ia menyelesaikan permainannya. Ketika ia
menyadari kehadiranku, iapun segera berpamitan pada beberapa temannya.Kemudian
berlari ke arahku membawa raut wajahnya yang selalu ceria. Kamipun bergandeng
tangan menuju gubuk kecil di ujung desa. Tempat kami menabur kasih.
Mentari
menjulang tinggi. Menapaki lintas alam yang begitu luas. Sinarnya menembus
setiap lapisan atmosfer. Hingga terurai pada dedaunan hijau yang mengitari
bukit. Hembusan angin menari lembut. Memberi sentuhan pada penduduk semesta.
Panorama indah di bukittinggi memang begitu memuaskan. Jamuannya pada setiap
pengunjung tak perlu diragukan. Satu tempat yang cocok untuk menenangkan hati.
Itulah alasan yang membuatku ingin menyendiri di sini. Menata kembali rangkaian
hidup yang porak poranda.
“Alwi
mandi, ya!” Pintaku.
“Iya,
Alwi mandi.” Jawabnya singkat. Iapun berlari menuju kamar mandi.
Namun, langkahnya kembali terhenti. Ketika ia
membalikkan badan, aku melihat ekspresi wajahnya yang serius.
“Loh,
ada apa?” Tanyaku penasaran.
“Ibu
udah mandikan?” Tanyanya balik.
“Hem…..”
Aku menarik nafas,”Ya udah la sayang, Nih, ibu udah wangi.” Ujarku sambil
membungkukkan badan agar ia mencium aroma parfum di pakaianku.
“O,
iya. Ibu udah mandi.” Ujarnya sambil mengangguk-nganggukkan kapala, “Ya udah,
Alwi mandi dulu ya, bu!”
Aku
tersenyum geli melihat sikapnya yang begitu lucu. Ku pandangi punggungnya yang
kemudian berlalu di balik pintu kamar mandi.
# #
#
Kriiiiiiiiiiiiiiiiing
Bel
berbunyi sangat nyaring. Menggugah resah di hati para ibu yang mengantarkan
anak mereka di hari pertama sekolah.Takut jikalau anaknya terlambat.
‘TK Pertiwi’ di mana aku mendaftarkan Alwi
sebagai salah satu muridnya itu, kini tampak ramai. Dipenuhi suara tangisan
anak-anak yang tidak ingin berpisah dari ibunya.
Ibu-ibu
itupun mencari cara agar anak mereka mau ditinggalkan sebentar untuk mengikuti
pelajaran mereka. Ada yang menjanjikan es krim, boneka, atau bahkan jalan-jalan
ke taman rekreasi. Namun, seakan sudah kebal akan rayuan, anak-anak itu tetap
saja tak terpengaruh. Beberapa dari mereka bahkan menyanggah tawaran ibunya.
“Ah,
ibu bo’ong. Dulu juga ibu pernah janji mau main ke time zone, tapi sampai
sekarang aku nggak pernah diajak ke sana.”
Seketika itu juga ibunya terdiam.
Memikirkan cara yang lebih ampuh untuk mengelabuhi anaknya itu.
Ku layangkan pandangan pada Alwi.
Ia bersikap santai. Tak terpancar sedikitpun perasaan gunda di wajahnya. Ia
tidak begitu mendramatisir perasaan teman-temannya yang sangat tak rela
ditinggal ibunya.
“Ntar, kalau udah selesai
belajarnya, tungguin ibu, ya!” Perintahku seraya meletakkan tangan di bahunya.
“Oke, bu!” Jawabnya dengan senyum
menggulung.
Ia pun melangkah memasuki kelas
berukuran 12x7 yang dipenuhi hiasan khas anak-anak.
# # #
Seusai pelajaran, Alwi melangkah
menuju gerbang sekolah. Matanya melirik ke arah jalan yang tampak ramai.
Beberapa temannya telah dijemput oleh orang tuanya.
“Ibu mana ya?” Pikirnya dalam
hati.Ia mulai cemas.
“Alwi, aku pulang dulu ya,” Sapa
salah seorang teman yang baru ia kenal hari ini.
“Ia,” Jawabnya singkat. Kemudian
kembali menerawang ke arah jalanan yang liar dengan kendaraan berkecepatan
tinggi.
Perutnya bergeming. Sudah saatnya
ia menerima asupan gizi siang ini. Namun, ia tak berani untuk pergi dari tempat
itu. Karena ia sudah janji akan dijemput di sana. Akhirnya ia pun memutuskan
untuk menunggu sebentar lagi.
Tiba-tiba satu sentuhan
mengagetkannya dari arah belakang. Ia cukup terkejut.
“Itu pasti ibu,” Pikirnya.
Ia pun membalikkan badan dengan
segera. Namun ia lebih terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang menyentuh
pundaknya tadi bukanlah ibu yang ia harapkan. Melainkan seorang laki-laki
berpakaian rapi, berkulit putih, yang serasi dengan rambutnya yang hitam.
“Kamu kenapa sendirian?” Tanya
lelaki itu.
Alwi tak menjawab. Matanya masih
terpaku pada sosok di hadapannya.
“Nak, kamu sama siapa? Kok
sendirian di tempat seperti ini?” Tanyanya lagi.
“Alwi lagi nungguin ibu,” Jawab
Alwi polos.
“O..Jadi namamu Alwi.” Ujar
lelaki itu.
“O,iya. Saya Aldi.” Lelaki itu
memperkenalkan diri, “Kalau kamu mau saya akan mengantarmu pulang.”
“Tapi, ibu nyuruh aku nunggu di
sini.”
“O..”Lelaki itu memahami.
“Om ini kelihatannya baik.” Alwi
membatin.
“Alwi udah makan, belum?” Tanya
Aldi.
“Belum,”
“Kalau begitu ikut om makan, ya!”
Alwi berpikir sejenak.
“Tapi, kalau ibu datang terus
nyari Alwi gimana?” Awli sedikit ragu. Meskipun sebenarnya ia juga ingin
menerima tawaran Aldi.
“Nggak pa-pa.Kita nyari tempat
makan yang dekat dari sini aja.” Aldi
sedikik memaksa. “Di sana! Kita bisa makan di sana.” Telunjuk Aldi
mengarah pada restoran yang letaknya tak jauh dari sekolah.
Alwi setuju.Mereka pun melangkah
menuju restoran itu. Mengikuti keinginan perut yang sudah keoncongan.
Di tempat itu Alwi dapat makan
sepuasnya. Sesuai keinginan hati.
“Makasih ya, om,” Ucapnya. Aldi
hanya membalas dengan senyum.
“Alwi janjian sama ibu jam
berapa?” Tanya Aldi ingin tahu.
“Jam setengah sebelas.” Jawab
Alwi, samar. Mulutnya penuh dengan daging dari paha ayam yang di goreng kering
+ saos tomat dengan campuran berbagai bumbu dapur lainnya. Sehingga rasanya
sangat goyang di lidah.
‘’Bener nggak mau dianter pulang
?” Tanya Aldi menawarkan untuk yang kesekian kali. Namun, gelengan kepala Alwi
membuatnya menghentikan niat baik itu. Ia pun memutuskan untuk menunggu sampai
ibu Alwi datang menjemputnya.
Tak berapa lama sebuah mobil
menepi di dekat restoran itu. Wanita berjilbab lebar keluar dari sana. Wajahnya
sangat familiar di mata Aldi. Perlaha wanita itu melangkah ke arah restoran.
Matanya menerawang ke segala arah. Mencermati satu persatu sudut restoran itu.
“Ibu!!!” Alwi meneriaki wanita
itu. Aldi sedikit terkejut. Dan hanya memandang reaksi Alwi yang segera berlari
ke arah wanita itu.
“Alwi kok ada di sini?” Tanya
wanita berjilbab yang ternyata ibu Alwi itu. Ia tampak khawatir akan keadaan
Alwi.
“Alwi Cuma makan aja kok, abis
ibu lama sih….” Wajah Alwi dibuat cemberut. “Lagian Alwi nggak sendiri kok.
Jadi ibu nggak perlu khawatir.”
“Nggak sendiri? Emangnya Alwi
sama siapa?”
“Tuh, sama om Aldi.” Telunjuk
Alwi mengarah pada Aldi.
Aninda, ibu Alwi mengikuti arah
telunjuk anaknya yang tepat mengarah pada sosok lelaki yang duduk di bangku, di
sudut restoran itu. Mata mereka bertemu. Seketika itu juga mereka bersitatap
satu sama lain. Suasana menjadi hening. Tak ada reaksi dari mereka. Alwi yang
tak mengerti apa yang sedang terjadi langsung menarik baju ibunya. Memaksanya
untuk menyapa lelaki yang baru dikenalnya.
Aninda tersadar. Dengan segera ia
menarik lengan anaknya. Dan memaksanya meninggalkan restoran itu.
“Ibu, ada apa? Kenapa kita pulang
sekarang? Alwi kan belum selesai makan.”
“Alwi, kita pulang sekarang aja
ya. Ma’emnya di lanjutin di rumah aja.” Aninda segera menuju pintu. Meninggalkan
lelaki di sudut sana yang memandangnya bingung.
“Aninda!!!” Aldi berteriak ke
arah Aninda. Namun, Aninda seakan tak mendengar teriakan yang cukup memekikkan
telinga itu. Ia terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun.
“Aninda tunggu!" Aldi
mencoba mengejar langkah Aninda.
“Ibu, om Aldi mau ngomong.” Alwi
mulai merengek. Ia menahan kakinya untuk tidak berjalan secepat langkah ibunya.
Aninda tak menghiraukan. Dengan cepat di bukanya pintu mobil dan menyuruh Alwi
untuk segera masuk.
“Aninda biarin aku ngomong.” Aldi
sudah berada selangkah di depan Aninda. Alwi yang berada di mobil semakin
bingung dengan keadaan ini. Ia sama sekali tak mengerti akan masalah yang
tengah dihadapi dua orang dewasa di hadapannya ini.
“Apa lagi yang perlu dibahas? Aku
rasa semua sudah cukup.” Aninda memalingkan wajahnya.
“Apa tidak bisa kita memulai
semuanya dari awal?” Wajah Aldi tampak penuh harap. Namun, hati Aninda masih
belum lunak. Ia tetap tak menggubris kata-kata itu.
“Bagaimana dengan Alwi?”
“Kamu tidak usah memikirkan itu.
Ia baik-baik saja. Tak ada masalah. Dan kamu bisa lihat. Ia tumbuh dengan sehat
tanpa kekurangan sesuatu apapun. Jadi kami tak perlu bantuanmu atau orang lain
sekalipun.”
Aldi kehabisan kata-kata. Ia
masih belum bisa menjalin hubungan baik dengan wanita yang pernah
ditinggalkannya itu.
Aninda segera masuk ke mobil
berwarna biru itu, lalu menyalakan mesin mobil. Tak berapa lama ia pun telah
keluar dari tempat parkir. Meninggalkan lelaki bertubuh tinggi semampai itu di
tengah kebisuannya.
# # #
Aninda memasuki kamarnya dengan
wajah kusut. Hatinya sangat kacau. Ia menghempaskan tubuhnya di kasur. Matanya
di pejamkan. Seketika itu pula ia mengingat kembali kenangan suramnya. Kenangan
yang membuat kisah indah hibupnya berganti menjadi mimpi buruk yang selalu
membayangi hari-harinya.
# #
#
“Kenapa harus dengan jalan
seperti itu?” Aldi bertanya dengan nada keras. Jelas ia tidak menerima usulan
itu.
“Tapi kita harus melakukannya.
Untuk kebaikan bersama.” Aninda memaksa.
“Tapi apa tidak ada cara lain?
Kenapa harus dengan bercerai?” Aldi tampak kecewa. “Aninda, pikirkan lagi.”
Mereka terdiam sejenak. Mencoba
memahami maksud masing-masing.
“Sudahlah….” Aninda menghempaskan
tangannya. Lalu pergi meninggalkan Aldi yang memandangnya dengan tatapan
kosong.
Sesuai dengan keinginan ayahnya
Aldi pun menikahi Amira, gadis keturunan tionghoa yang dikenalnya sejak kecil.
Amira memang gadis yang cukup manis. Ia memiliki pesona gadis yang tidak
mungkin ditolak oleh lelaki mana pun. Namun, bagi Aldi kecantikan wajah Amira
tak akan mengurangi cintanya pada Aninda. Ia sangat mencintainya. Itulah yang
membuatnya tidak ingin melaksanakan keinginan ayahnya untuk bercerai dari
wanita yang telah menemaninya selama beberapa tahun ini.
Kalau saja Amira tak mengalami
kecelakaan itu. Mungkin ia akan tetap pada pendiriannnya untuk tidak
menceraikan Aninda.
Keluarga Aldi dan Amira memiliki
hubungan yang sangat dekat. Saking dekatnya, sampai setiap acara di keluarga
Aldi tidak akan terlalui tanpa kehadiran keluarga Amira. Mereka sudah seperti
keluarga besar. Saling membantu saat suka maupun duka.
Amira ternyata menyimpan hati
pada Aldi. Hanya saja ia tak pernah berani untuk mengutarakannya. Hingga kabar
pernikahan Aldi dan Aninda terdengar di telinganya. Ia sangat terpukul. Dan
menyiksa dirinya sendiri. Hingga beberapa hari sebelum perceraian itu, ia pun
mengalami kecelakaan mobil yang menewaskan ibunya. Amira menjadi sangat
tertekan. Hingga ia tak lagi mau berkomunikasi dengan orang-orang di
sekitarnya.
Pak Rian, ayah Aldi merasa perlu
untuk membantu Amira. Dan setelah mengetahui perasaan Amira yang begitu
besarnya kepada Aldi, ia pun mengusulkan untuk menikahi Amira. Agar ia dapat
kembali seperti dulu. Menjadi gadis yang cantik dan ceria. Itulah satu-satunya cara
yang terpikir oleh pak Rian. Namun, Aldi berkali-kali menolak permintaan itu.
Ia tak akan sanggup memadu istrinya Aninda. Karena ia pasti akan tersiksa
dengan keadaan seperti ini.
Satu ketika, pak Rian mendatangi
rumah Aldi. Di sana ia mulai menutarakan maksudnya pada Aninda. Berharap agar
Aninda memberikan izin kepada Aldi untuk memiliki istri dua. Tentu saja Aninda
sangat terkejut. Ia hampir saja menangis. Hatinya terasa sesak ketika mendengar
penuturan ayah mertuanya itu. Namun, dalam keadaan seperti ini, ia tak tahu
lagi harus berbuat apa selain mengikhlaskan suaminya untuk menikahi gadis yang
sangat membutuhkannya.
Dalam hatinya yang paling dalam,
sungguh ia tak merelakannya. Namun, dalam keadaan seperti ini, ia tak
seharusnya bersikap egois.
Hari-hari berlalu. Setelah
berpikir akan solusi terbaik untuk dirinya dan keluarganya, ia pun memutuskan
untuk bercerai dari Aldi. Karena ia tak memiliki keberanian yang cukup untuk
menyaksikan Aldi bersama wanita lain yang berada di sisinya.
# #
#
Aninda memandang ke arah matahari
tenggelam. Cahaya kuningnya menerpa wajah mulus Aninda. Hangat menyusup
perlahan. Ia memejamkan mata. Membiarkan seruan alam menerpa dirinya.
Rasanya sudah lama ia tidak
menikmati suasana seperti ini. Sejak perpisahannya dengan Aldi.
Seberkas memori membesit di keningnya.
Kenangan indah yang pernah diukirnya bersama lelaki pemilik mimpinya itu.
Hatinya masih merekam semua kenangan itu. Sulit untuk terhapus.
Enam tahun merupakan waktu yang
cukup lama untuknya. Mengisi hari dengan kesendirian. Ia bahkan tak berniat
untuk mencari pengganti Aldi. Karena rasa itu masih begitu kuat untuk
dilepaskan. Hanya Alwi yang menjadi penghibur hatinya di kala duka. Sebagai
kenang-kenangan dari mantan suaminya yang telah memberikan kebahagian terbesar
dalam hidupnya, walau hanya sebentar.
# #
#
Drrrriiiingggg…..
HP Aninda memekik keras. Mengisi
kesunyian ruangan berukuran 7x5 itu. Ia segera meraihnya. Di layar terlampir
nomor tak dikenal. Aninda memicingkan mata.
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam…” Suara jawaban
dari seberang sana. Dari nada suaranya, ia dapat menebak bahwa yang sedang
berbicara dengannya adalah seorang pria.
“Aninda, ini aku.” Lanjut lelaki
itu.
Aninda terkejut. Jantungnya
berdenyut cepat. Ia ingat betul dengan suara ini. Suara yang pernah menenangkan
hatinya. Menyerunya dengan panggilan manis. Ia tak mungkin melupakannya.
“M…mas Aldi.”
“Aninda, aku ingin berbicara
denganmu. Biarkan aku bertemu denganmu, dengan anak kita.” Suara Aldi terdengar
menggetar.
“Apa lagi yang perlu diomongin,
Mas? Semuanya sudah berakhir. Sudahlah…..”
“Tapi Nin, aku hanya ingin
memulai semuanya dari awal. Aku masih mencintaimu, Nin.”
Cesssss
Hati Aninda serasa membeku
mendengar kata itu. Kata yang pernah meluluhkan hatinya. Membuat hidupnya
dipenuhi mimpi-mimpi indah yang ternyata tak sesuao dengan harapannya.
Air mata Aninda perlahan
menggenangi matanya. Lalu menetes membasuhi wajah lembutnya.
“Tidak bisakah kita bersatu
kembali? Menjalani hidup bersama seperti dulu.” Aldi masih begitu
mengharapkannya. Namun, sakit hati itu masih membekas jelas di sudut hati
Aninda. Meskipun di bagian hatinya yang lain tetap menyimpan satu nama. Yaitu
Aldi.
Ia juga sudah tahu tentang Amira
yang telah meninggal beberapa tahun lalu. Seharusnya ia tidak lagi mengalami
kesulitan dalam menentukan pilihan. Tapi mengapa hati itu masih belum bisa
menerima semuanya dengan lapang dada.
# #
#
“Pak Aldi, sudah saatnya Anda
untuk minum obat.” Seorang suster mengingatkannya.
“Ia, Sus.” Jawab Aldi singkat.
Lalu kembali melanjutkan perbincangannya dengan Aninda. Namun, Aninda membisu
di depan layar HPnya. Mengingat kembali masa-masa itu. Saat di mana ia
menggugat cerai suaminya.
Sementara Aldi memaksakan
tubuhnya untuk menahan rasa sakit itu walau hanya sebentar. Ia belum ingin
menutup telepon. Masih merindukan suara wanita yang dicintainya itu.
Kanker paru-paru yang telah
dideritanya selama hampir tiga tahun ini ternyata berkembang dengan cepat.
Membuatnya harus menetap di rumah sakit sebelum akhirnya pergi meninggalkan
dunia ini. Sesuai hasil tes kesehatannya. Diprediksikan ia hanya akan bertahan
dalam waktu dua minggu ke depan.
Setidaknya di penghujung hayatnya
ia dapat mewujudkan keinginan terakhirnya, yaitu kembali pada Aninda. Meskipun
ia juga menyadari bahwa hal itu malah akan membuat Aninda semakin tersiksa.
Namun, itulah harapan terakhirnya. Sebelum ia pergi untuk selama-lamanya dan
menyesali semua ini.
# # #
Dua minggu berlalu sejak ia
menerima telepon dari Aldi. Ia belum memberikan keputusan apapun. Hatinya masih
dipenuhi rasa takut. Takut untuk memulai semuanya.
Mentari senja yang menutup hari
ini tak menampakkan wajahnya. Sehingga Aninda tak dapat menikmati
kehangatannya. Halaman belakang rumahnya yang menjadi tempat kesukaannya untuk
menghabiskan sore, tampak lebih tenang. Tak ada satupun suara hewan yang
biasanya bercanda ria di balik pepohonan dan semak-semak. Semua tampak sunyi.
Sejak hari itu, ia juga tak
pernah lagi menerima telepon dari Aldi.
# #
#