Author: Disasta_Nisa
•01.33

     Ketika pagi baru menyapa hari, kesibukan sudah dimulai di rumah Dila. Setelah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah, iapun bergegas menuju salah satu rumah sakit di kota itu.
     Dengan wajah sendu, ia memasuki salah satu kamar bernomor 2333 di lantai 2 rumah sakit itu. Tampak olehnya sesosok tubuh yang terbaring lemas di atas ranajang berukuran 3x1,5 m. Perlahan ia dekati wanita separuh baya yang terlilit selang infus di hidungnya. Dila mulai menangis.
     “Maaf kami tak bias memberikan jalan keluar lain  selain operasi. Karena kedua ginjalnya tak lagi berfungsi. Dan saya harap, anda segera menemukan ginjal yang cocok untuk pasien. Kalau tidak….”Dokter Ridwan menghentikan penjelasannya.
     “ Kenapa Dok? Apa yang akan terjadi dengan ibu saya?” Dila panik.
     “Kalau tidak, maka akan sangat mengancam nyawa pasien.”
     “Apa?!” Dila terkejut. Dari sudut matanya mulai keluar tetesan bening. Ia tak mampu menahan tangis.
     “Ambil ginjal saya.Dok!Jangan biarkan ibu pergi. Lakukan yang terbaik untuk ibu,Dok!”
      Setelah menjalani operasi, ibu Dila tampak lebih sehat. Beliau juga tidak lagi menggunakan infus. Dan kembali makan seperti biasa.
      “Bu, Dila keluar sebentar, ya!Obat ibu habis.” Dila berpamitan.
       “Hati-hati saying!” Tutur ibunya singkat. Tak lupa dikecupnya kening putri tercintanya itu.
      Dilapun pergi ke apotek yang letaknya tak jauh dari rumah sakit. Setelah mendapatkan obat yang dibutuhkan ibunya, iapun segera kembali ke rumah sakit. Namun naas, sebuah truk dengan kecepatan tinggi tiba-tiba menyambar tubuhya. Ia pun terlempar dengan darah yang membasahi wajah dan anggota tubuhnya. Tiba-tiba tetesan bening kembali keluar dari matanya.
     “Bu, maafin Dila .. …..!”Tak berapa lama, ia pun meninggalkan dunia.       
|
This entry was posted on 01.33 and is filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

0 komentar: