•01.31
“Dinda, tolong ambilkan kapur itu!” Naya menunjuk pada sebuah
kotak kapur yang berisi beberapa kapur putih yang tak layak pakai. Spontan
gadis kecil bernama Dinda itu pun
beranjak menuju kursi lusuh yang tersandar di tembok berwarna kehitaman.
Pulasan cat tak lagi terlihat jelas di sana. Sementara di atasnya,
berpuluh-puluh kendaraan berjajar tak karuan persis seperti antrian sembako
warga di sudut-sudut Negara ini.
Naya pun mulai menulis pada
tembok-tembok yang telah ia bersihkan terlebih dahulu. Angka demi angka terukir
membentuk rumus-rumus matematika yang pernah ia pelajari di kelas 2 sekolah
dasar dulu. Sementara adiknya, Dinda hanya memerhatikan setiap gerak kapur itu.
Ia tak mengerti sama sekali arti setiap goresan kapur yang sekarang memenuhi
ruang kosong di tembok. Sesekali Naya berhenti. Mengingat-ingat pelajaran yang
telah ia tinggalkan selama dua tahun ini.
“Kak Naya, aku lapar.” Dinda
mengeluh. Sejak pagi perutnya belum terisi secuil makanan pun. Kali ini Naya
benar-benar menghentikan kegiatannya. Dipandangnya sosok tubuh yang kurus
kering, dengan wajah yang jauh dari batas bersih. Penampilan kumuh itu sama dengannya. Sejak
ditinggal ayah dan ibunya, mereka terlantar di jalanan. Rumah kontrakan yang
dulu di tempatinya, harus ditinggalkan karena tak mampu membayar sewanya. Untuk
makan saja mereka kadang harus menunggu sisa-sisa makanan yang dibuang oleh
salah satu pegawai restoran tempat biasa mereka ngamen.
Naya pun harus rela melepas
impiannya di bangku sekolah. Menjadi seorang dokter. Rasanya tidak akan pernah
terwujud.
“Kak, Dinda lapar!” Dinda mulai
merengek. Naya meraba sakunya. Lalu mengeluarkan sebungkus permen untuk
pengganjal perut adiknya itu.
Ia bangkit dan melihat sekitar.
“Ayo!” Ajaknya singkat. Dinda
pun mengikuti perintahnya dan berlari kecil mengejarnya yang telah melangkah
lebih dulu. Dengan beberapa tutup botol di tangannya, merekapun mulai
menyanyikan lagu-lagu anak yang mereka
tahu, guna menghibur beberapa orang yang sedang asyik makan di sebuah restoran.
Alhasil, para pengunjung yang merasa kasihan pada mereka memberikan koin-koin
lima ratus, dua ratus, atau bahkan seratus. Sebagai tanda keprihatinan mereka.
Setelah merasa cukup, merekapun
beranjak ke kursi lainnya. Lalu mulai memainkan kembali nada-nada dari tutup
botol yang telah dirangkai sedemikian rupa itu. Naya terus memukul-mukulkan
benda itu di telapak tangannya, sementara Dinda terus bernyanyi memamerkan
suaranya yang lumayan bagus untuk standar anak-anak seusianya.
# #
#
Naya memandang ke awan pekat
yang menenggelamkan bintang-bintang. Sebentar lagi akan turun hujan. Namun,
angannya masih terus menerawang di balik awan itu. Menumbuhkan kembali
mimpi-mimpi itu walau hanya sesaat. Sama. Kedudukannya tetap saja hanya sebatas
mimpi. Tak akan mungkin berubah menjadi kenyataan yang apabila dipikirkan saja
sudah membuat kita merasa mustahil untuk mewujudkannya. Namun, itulah mimpi.
Yang akan terus menyinggahi setiap asa
manusia. Membawa si pemimpi ke alam yang jauh dari kenyataan hidup. Bahkan
untuk seorang gadis kecil yang baru memekarkan kuncupnya.
Dinda datang menghampirinya.
Tampaknya ia merasa kegatalan setelah di serbu ribuan nyamuk yang tebang bebas
di tempat itu. Suara klakson yang riuh oleh kendaraan yang masih berkeluyuran
di atas jembatan membuatnya tak lagi bergairah untuk tidur. Padahal,
aktifitasnya hari ini cukup melelahkan dari hari-hari sebelumnya. Mereka harus
ngamen selama kurang lebih 12 jam untuk memenuhi kebutuhan mereka hingga tiga
hari mendatang. Tentu gadis mungil itu sangat kelelahan.
“Kakak belum tidur?” Tanya Dinda
sambil mengucek-ucek matanya. Naya hanya memandanginya dengan senyum
tersungging di bibir. Dinda pun mengambil posisi di sampingnya, ikut memandangi
awan hitam itu dengan pandangan bingung. Mencari bintang yang tak tampak walau
hanya sebuah.
“Dinda nggak kangen Bunda?”
Tanya Naya tiba-tiba. Wajahnya masih terpaku pada langit luas tak berhias itu.
Dinda terkejut. Di arahkan pandangannya pada sang kakak. Mereka tak berkata
apa-apa satu sama lain. Saling berusaha mengingat-ingat kenangan - kenangan
indah bersama wanita yang mereka panggil Bunda. Seketika itu bening membasahi pipi kedua
gadis kecil itu. Tersentuh oleh memory indah yang tak mungkin dapat kembali.
Sentuhan Bunda yang dulu mereka rasakan tak lagi berbekas.Hilang bersama sosok
wanita yang mereka agung-agungkan kasih sayangnya itu.
“Dinda, lihat itu!” Naya
menunjuk pada bintang kejora yang tampak di tengah-tengah pekatnya awan.
Cahayanya yang begitu mempesona membuat mereka takjub. Dinda menghapus air
matanya. Saat itulah Naya berjanji pada dirinya bahwa tangisan kali ini adalah
tangisan terakhir dalam hidupnya. Karena sekalipun Bunda tak lagi berada di
tengah – tengah mereka, namun ia masih memiliki satu harta yang paling berharga.
Dinda masih ada di sampingnya. Itu sudah cukup.
# #
#
Tak terasa waktu berputar
bersama tahun yang terus berganti. Kini kedua kakak beradik itu tumbuh menjadi
gadis remaja yang tangguh menghadapi hidup. Pengalaman pahit yang mereka
rasakan selama ini telah membiasakan mereka menjadi gadis yang mandiri.
Dengan gelar dokter yang di
sandangnya, ia menatap kedua orang tua angkatnya dengan penuh percaya diri.
Kalau bukan karena Pak Rudi dan Bu Aini yang mengangkatnya menjadi anak,
mungkin ia tidak akan mendapat kesempatan untuk melanjutkan cita-citanya yang
telah tertunda.
Kala itu Bu Aini tengah
berbekanja di mal. Namun, tanpa sengaja dompetnya terjatuh. Sehingga
menyebabkan ia kelimpungan mengitari seisi mal. Ketika ia hampir putus asa, seorang gadis yang
pakaiannya tampak lusuh datang membawakan dompetnya. Ia terkejut dan langsung
sujud syuku saking bahagianya.ia pun menelphon suaminya dan mengabarkan tentang
hal itu. Saking asyiknya, ia sampai lupa bahwa gadis itu telah pergi. Bu Aini
sangat menyesal. Ia berusaha mencarinya. Namun, ia tak menemukannya di sekitar
mal itu.
Beberapa hari kemudian ia
bermaksud berbelanja lagi di mal itu. Dan ia sangat terkejut ketika menemukan
gadis itu berada di salah satu sudut mal itu. Ia pun menghampirinya dengan
wajah sumringah.
“Kamu gadis yang waktu itu kan?”
Sapa Bu Aini ramah. “Saya Aini, nama kamu siapa?”
“saya Naya.” Jawab Naya ragu.
Setelah ngobrol beberapa lama, dan mengetahui keadaam Naya, Bu Aini pun
bermaksud untuk mengangkatnya sebagai anak.
Awalnya ia menolak. Namun,
setelah Bu Aini meyakinkannya, ia pun menerima tawaran itu. Dan memohon agar
adiknya juga di beri kesempatan untuk tetap bersamanya.
Saat itulah kehidupan baru
dimulai. Berbekalkan kemampuan intelektual yang memang sudah dimiliknya, ia
sering mendapat penghargaan atas prestasinya. Hingga ia dapat menjalani masa
kuliah di jurusan favoritnya, kedokteran.
# #
#
Malam semakin larut. Namun, Naya
masih asyik dengan pikirannnya. Pandangannya tertuju pada awan pekat yang menyelimuti
malam. Kini ia mengerti arti sebuah mimpi, harapan. Kejora itu mulai
menampakkan diri di sela-sela pekatnya malam. Pesona masih sama seperti yang
dulu. Tak ada yang berubah.
Senyum terbesit di bibirnya.
Matanya menatap seiring dengan hembusan syukur dalam hati. Santuhan lembut
menghalaunya dari belakang.
“Kakak belum tidur?” Tanya Dinda
lirih. Ia memandangi sang adik dengan seutas senyum. Hatinya berbisik, “ Terima
kasih ,ya Allah……Terima kasih.”
# # #


0 komentar: